Asuhan Keperawatan Rotator Cuff

ILMU KEPERAWATAN IV A

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA ROTATOR CUFF

 

MAKALAH

 oleh:

Kelompok 9

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2015


 

ILMU KEPERAWATAN IV A

ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA ROTATOR CUFF

disusun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Keperawatan Klinik IV A dengan dosen Ns. Rondhianto, M.Kep.

MAKALAH

 oleh:

 Indah Dwi Haryati                NIM 132310101005

Nurwahidah                          NIM 132310101026

Dwi Yoga Setyotrini              NIM 132310101027

Devi Maharani                      NIM 132310101056

Siti Nurhasanah                    NIM 132310101058

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2015


 KATA PENGANTAR

 Puji syukur kehadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan Cedera Rotator Cuff tepat waktu. Makalah ini disusun untuk melengkapi dam memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ilmu Keperawatan Klinik IV A.

Dalam pembuatan makalah ini penulis banyak mendapat hambatan, akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak, hambatan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurnam oleh karena itu kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca, khususnya mahasiswa keperawatan.

                                                                              Jember, Juni 2015

                                                                              Penulis

 

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rotator cuff adalah kelompok dari empat otot yang terdiri dari Muscle Supraspinatus, Muscle  Infraspinatus, Muscle Subsacpularis, dan Muscle Teres minor. Keempat otot tersebut memiliki fungsi untuk menstabilisasi sendi glenohumeral dengan menarik humerus ke arah skapula untuk gerakan-gerakan sendi glenohumeral seperti abduksi-adduksi, rotasi, dan fleksi-ekstensi. Sindrom rotator cuff ialah kumpulan gejala yang timbul akibat kerusakan atau lesi dari rotator cuff yang bisa ditimbulkan akibat overuse, trauma, dan degenerasi.

Sendi bahu merupakan bagian yang sangat tidak stabil. Di sendi bahu, tendon yang sangat berperan adalah rotator cuff dan biceps. Cedera pada bahu merupakan salah satu cedera yang paling sering dialami pada saat berolahraga, selain lutut dan pergelangan kaki. Beberapa cedera sendi bahu yang paling sering terjadi, antara lain subacromial bursitis, supraspinatus tendinitis, long head biceps tendinitis, rotator cuff tendonitis hingga sobekan rotator cuff (rotator cuff tear).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menetapkan beberapa rumusan masalah, di antaranya adalah sebagai berikut.

1.2.1 Apa pengertian Rotator cuff?

1.2.2 Bagaimana epidemiologi dari cedera Rotator Cuff?

1.2.3 Bagaimana etiologi dari cedera Rotator cuff?

1.2.4 Bagaimana manifestasi klinis dari cedera Rotator cuff?

1.2.5 Bagaimana patofiologi dari cedera Rotator cuff?

1.2.6 Bagaimana Komplikasi dari cedera Rotator Cuff?

1.2.7 Bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan dari cedera Rotator cuff?

1.2.8 Bagiaman pencegahan dari cedera Rotator Cuff?

1.2.9 Bagaiaman asuhan keperawatan pada cedera Rotator Cuff?

1.3 Tujuan

Dari beberapa rumusan masalah di atas, penulis dapat merumuskan tujuan penulisan dari makalah ini, di antaranya:

1.3.1 untuk mengetahui pengertian Rotator cuff?

1.3.2 untuk mengetahui epidemiologi dari cedera Rotator Cuff?

1.3.3 untuk mengetahui etiologi dari cedera Rotator cuff?

1.3.4 untuk mengetahui manifestasi klinis dari cedera Rotator cuff?

1.3.5 untuk mengetahui patofiologi dari cedera Rotator cuff?

1.3.6 untuk mengetahui komplikasi dari cedera Rotator Cuff?

1.3.7 untuk mengetahui penatalaksanaan medis dan keperawatan dari cedera Rotator cuff?

1.3.8 untuk mengetahui pencegahan dari cedera Rotator Cuff?

1.3.9 untuk mengetahui asuhan keperawatan pada cedera Rotator Cuff?

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.4.1   sebagai tambahan perbendaharaan karya tulis ilmiah yang dapat dijadikan referensi dalam pembelajaran mahasiswajurusan keperawatan;

1.4.2   dengan mengetahui hal yang berkaitan dengan rotator cuff maka kita dapat lebih memahami tentang cedera otator cuff sehingga layanan asuhan keperawatan dapat tersampaikan secara maksimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Sendi bahu merupakan bagian yang sangat tidak stabil. Dan pada sendi bahu, terdapat tendon yang mempunyai peran penting, yaitu rotator cuff dan biceps. Shoulder tendonitis (atau rotator cuff tendonitis) adalah salah satu kondisi paling umum yang terjadi pada persendian bahu (rotator cuff).

Rotator cuff adalah tendon yang mengelilingi sendi bahu. Sendi bahu dapat bergerak dan mengubah melalui jangkauan yang lebih luas daripada sendi lainnya di tubuh. Istilah rotator cuff dipergunakan untuk jaringan ikat fibrosa yang mengelilingi bagian atas tulang humerus. Ini dibentuk dengan bersatunya tendon-tendon atap bahu. Keempat tendon tersebut adalah musculus supraspinatus, musculus infraspinatus, musculus teres minor dan musculus subscapularis.

Jadi, cedera rotator cuff adalah suatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh karena suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi pada bagian tendon bahu serta penggunaan rotator cuff yang berlebihan ketika melakukan aktifitas sehingga menyebabkan tendon berlawanan dengan tulang.

2.2 Epidemiologi

Di amerika sindrom rotator cuff merupakan penyebab ketiga  paling sering yang menyebabkan kelainan muskuloskeletal. Insidens penyakit ini meningkat 25 kasus per 1000 populasi pada usia 42-55 tahun. Kejadian cedera rotator cuff pada Laki-laki dibanding perempuan 1:1. Gejala dan tanda klinis cedera rotator cuff sangat bervariasi, mulai dari ringan sampai berat. Cedera tersebut dapat mengakibatkan nyeri sendi pada saat bergerak maupun istirahat. Di antara beberapa jenis cedera tersebut, kali ini kita akan membahas salah satunya, yaitu cedera rotator cuff.

2.3  Etiologi

Terdapat beberapa hal yang bisa menyebabkan cedera/ robek pada rotator cuff. Tekanan yang terjadi terus-menerus dan penggunaan rotator cuff yang berlebihan ketika melakukan aktifitas yang sama dapat menyebabkan tendon berlawanan dengan tulang. Cedera pada tendon rotator cuff ini sering terjadi pada orang-orang yang berumur sekitar 40 tahun atau lebih kerena pada usia tersebut, telah terjadi kemunduran fungsi rotatir cuff akibat tekanan-tekanan kerja dan aktifitas setiap hari, terutama pada aktifitas yang menghuruskan lengan bergerak elevasi. Tendon rotator cuff pada orang yang anatomis bahunya tidak stabil dapat terselip diantara caput humeri dengan acromion (tulang yang  berada di atas tendon) dan mengakibatkan cedera/robek. Namun demikian, kelainan anatomis alami pada sendi bahu juga dapat menyebabkan penggunaan yang abnormal pada tendon yang dapat menyebabkan cedera/kerobekan. Faktor umum penyebab rotator cuff tendonitis adalah olahraga. Tetapi gangguan ini juga dapat terjadi pada orang-orang yang berusia > 40 tahun.

2.4 Manifestasi klinis

Gejala yang berhubungan dengan cedera/ robeknya rotator cuff awalnya hanya bersifat ringan, kemudian menjadi lebih parah pada tahap selanjutnya. Gejala  penyertanya meliputi nyeri di malam hari dan nyeri hebat pada saat digunakan beraktifitas, khususnya ketika digunakan untuk menggerakkan lengan sampai diatas kepala (elevasi).

Contohnya saat tangan digunakan untuk meletakkan sesuatu di tempat yang tinggi maka akan terasa nyeri pada bagian bahunya. Gejala ini mirip dengan tendonitis atau bursitis. Tetapi, cedera rotator cuff ini agak berbeda dengan bursitis atau tendonitis. Pada orang dengan bursitis atau tendonitis, ia akan merasa lebih baik jika digunakan untuk istirahat, saat aktifitas dimodifikasi, dan saat diberikan obat anti inflamasi (seperti aspirin atau ibuprofen).

Gejala cedera/ robeknya rotator cuff tidak membaik ketika hanya diberikan terapi biasa. Pada tahap nyeri pada cedera rotator cuff selanjutnya, lengan dan bahu akan terasa lemah ketika digunakan untuk melakukan gerakan elevasi atau membentangkan lengan ke arah tubuh bagian samping. Bahkan ketika beraktifitas yang ringan, seperti mengangkat sesuatu dapat menimbulkan nyeri akut pada bahu. Pada saat malam hari rasa nyeri dapat terasa lebih parah. Nyeri ini mengindikasikan bahwa cedera/ robekan parsial rotator cuff telah berubah menjadi cedera/ robekan yang kompleks.

2.5  Patofisiologi

Rotator cuff yang terdiri dari empat tendon dapat mengalami cedera. Dari keempat tendon yang terdapat pada rotator cuff ini, yang berisiko tinggi mengalami cedera adalah tendon supraspinatus. Trauma atau salah posisi ketika berolahraga, misalnya jatuh dengan tangan lurus atau abduksi yang tiba-tiba dapat menyebabkan tarikas secara tiba-tiba. Sedangkan pada orang tua dapat terjadi karena adanya degenarasi pada rotator cuff. Tekanan atau tarikan terus menerus dan penggunaan yang berlebihan ketika beraktifitas dapat menyebabkan tendon beradu dengan tulang yang dapat mengakibatkan kerobekan pada rotator cuff. Akibat cedera tersebut akan menyebabkan peradangan yang biasanya disertai keluhan nyeri. Keluhannya juga dapat berupa kesulitan mengabduksi lengan. Otot dan tendo supraspinatus dapat menjalarkan nyeri ke lengan, nyeri dirasakan sebagai nyeri dalam di sisi lateral bahu, bagian tengah otot deltoid turun ke insersi deltoid.  Rasa nyeri juga dapat menjalar ke epicondylus lateral siku. Penyembuhan trigger point dapat dilakukan dengan mengatur posisi pasien berbaring miring atau duduk.

  • Komplikasi & prognosis

Tingkat kesembuhan pada kasus dislokasi traumatik ini baik jika tidak menimbulkan komplikasi. Adapun komplikasi yang terjadi pada cedera rorator cuff, yaitu:

  1. Fraktur
  2. Kontraktur
  3. Trauma jaringan

 

2.7  Tatalaksana Medis dan Keperawatan

Pengobatan cedera rotator cuff tergantung pada keparahan cedera pada tendon rotator cuff dan kondisi dasar pasien. Pengobatan konservatif dapat membantu mempercepat pemulihan cedera rotator cuff.
Jika cedera sangat parah sehingga otot dan tendon menjadi robek total, maka perlu menjalani operasi perbaikan.

  1. Terapi

Latihan terapi fisik dapat membantu memulihkan fleksibilitas dan kekuatan bahu setelah cedera rotator cuff.

  1. Obat-obatan

Jika pengobatan konservatif tidak mengurangi rasa sakit, dokter mungkin merekomendasikan suntikan steroid ke dalam sendi bahu terutama jika rasa sakit mengganggu tidur, kegiatan sehari-hari atau berolahraga. Adakalanya dokter memberikan suntikan kortison (obat anti inflamasi yang kuat) untuk menurunkan peradangan dan nyeri. Obat harus digunakan secara bijak karena penggunaan jangka panjang memberikan kontribusi terhadap melemahnya tendon.

  1. Operasi
  2. Pengangkatan tonjolan tulang: Pertumbuhan tulang berlebih pada rotator cuff dapat diangkat dan bagian tendon yang rusak dapat diperbaiki. Prosedur ini seringkali dilakukan dengan menggunakan arthroscopy, dimana dokter akan menempatkan kamera serat optik dan peralatan khusus melalui sayatan kecil.
  3. Perbaikan atau penggantian tendon: Tendon rotator cuff dapat diperbaiki dan disambungkan ketulanglengan atas. Jika tendon yang robek mengalami kerusakan parah, dokter mungkin memutuskan untuk menggunakan tendon terdekat sebagai pengganti.
  4. Penggantian bahu: Cedera rotator cuff massif terkait dengan penyakit sendi (arthritis) degeneratif mungkin memerlukan operasi penggantian bahu. Untuk meningkatkan stabilitas sendi buatan tersebut, sebuah prosedur inovatif yang dinamakan artroplasti bahu terbalik mungkin dilakukan untuk memasang bagian bola dari sendi buatan ke tulang belikat dan soket bagian ke tulang lengan.

2.8  Pencegahan

Jika berada pada risiko cedera atau pernah mengalaminya, latihan peregangan bahu setiap hari dan olahraga dapat membantu mencegah cedera di masa mendatang. Otot yang perlu dilatih adalah otot depan dada, bahu dan lengan atas, tetapi sama pentingnya untuk memperkuat otot-otot di bagian belakang bahu dan sekitar tulang belikat untuk mengoptimalkan keseimbangan otot bahu. Dokter atau ahli terapi fisik juga dapat membantu merencanakan latihan rutin. Selain itu, berhentilah melakukan aktifitas yang menyebabkan rasa sakit dan menghindari gerakan yang menimbulkan rasa sakit.

BAB 3. ASUHANKEPERAWATAN

 

  • Pengkajian
    • Keluhan Utama

Keluhan utama yang sering muncul yaitu pasien akan mengeluh nyeri dan panas serta aka nada pembengkakan dan kemerahan di bagian yang mengalami cedera.

  • Riwayat Penyakit
  • Riwayat Penyakit Sekarang

Adanya nyeri pada bahu, dikarenakan cidera pada bahu saat melakukan latihan olahraga dan pasien tidak bisa menglakukan aktivitas biasa seperti: mengangkat tangan, menyisir rambut dan meletakkan kotak diatas rak.

  • Riwayat Penyakit Dahulu

Perlu diketahui adanya proses penuaan atau peradangan pada bahu dan perlu diketahui apakah pasien pernh mengalami trauma pada bahu.

  • Riwayat Penyakit Keluarga

Membahasa tentang riwayat penyakit yang mungkin diderita oleh anggota keluarga pasien yang disinyalir sebagai penyebab penyakit pasien sekarang.

  • Pengkajian Keperawatan (11 pola Gordon)
  1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Kaji persepsi klien mengenai masalah sehat sakit.

  1. Pola nutrisi dan metabolisme

Pasien dengan cedera rotator cuff akan mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas biasa seperti makan. pasien dengan cedera rotator cuff keadaan umumnya lemah dan mengeluh susah dalam menggerakkan bahu.

  1. Pola eliminasi

Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan ilusi dan defekasi sebelum dan sesudah MRS. Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus.

  1. Pola aktivitas dan latihan

Akibat cedera rotator cuff pasien akan mengurangi aktivitasnya karena adanya nyeri dada dan untuk memenuhi kebutuhannya sebagian aktifitas pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya.

  1. Pola tidur dan istirahat

Adanya nyeri bahu akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat.

  1. Pola hubungan dan peran

Akibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran.

  1. Pola persepsi dan konsep diri

Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang tadinya sehat, tiba-tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri pada bahu. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif terhadap dirinya.

  1. Pola sensori dan kognitif

Pasien mengalami nyeri pada bahu.

  1. Pola reproduksi seksual

Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu kondisi fisiknya masih lemah.

  1. Pola penanggulangan stress

Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya.

  1. Pola tata nilai dan kepercayaan

Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan.

  • Pemeriksaan Fisik

Inspeksi : pemeriksaan pada penderita akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok antara bahu yang mengalami gangguan dengan bahu yang tidak mengalami gangguan. Dijumpai adanya pembengkakan dan kemerah-merahan di sekitar sendi bahu karena adanya peradangan. Terkadang juga dijumpai atropi otot supraspinatus.

Palpasi: pada kasus ini akan dijumpai spasme otot sekitar bahu, nyeri tekan pada tendon M. Supraspinatus yaitu pada tuberculum mayor humeri dan adanya peningkatan suhu lokal di daerah bahu.

Auskultasi: pada kondisi ini tidak dilakukan.

Perkusi: pada kondisi ini tidak dilakukan

  • Pemeriksaan Lab dan Penunjang
  1. Pemeriksaan USG

Pemeriksaan USG dapat dilakukan untuk mendiagnosa adanya robekan dari rotator cuff  dan pemeriksaan ini tergantung pada operator. Diagnosis terdapat robekan yang besar pada rotator cuff   bila terdapat  nonvisualization dari tendon SubScapularis dan otot deltoid sehingga yang tanpak langsung korteks humerus. Robekan rotator cuff yang besar ditunjukan sebagai daerah hypoechoic meluas hingga rotator cuff; dengan terdapatnya cairan bursal di subdeltoid mendukung diagnosis. Jika robekan dari rotator cuff  cukup besar mengakibatkan otot deltoid berdekatan dapat masuk ke dalam celah tendon.

  • Pemeriksaan MRI

Pemeriksaan MRI dipergunakan untuk melihat kondisi rotator cuff, tetapi lebih dari 1/3 pasien tidak memiliki keluhan walaupun dalam MRI tanpak adanya robekan pada rotator cuff. Pemeriksaan MRI lebih baik untuk mendiagnosa robekan rotator cuff  lebih baik dari pada dengan USG. Robekan dari rotator cuff  dibagi menjadi beberapa grade, yaitu ; kecil (kurang dari 1cm), sedang (1-3 cm), dan besar (3-5cm), massif (lebih besar 5cm). pemeriksaan ini sangat bermanfaat untuk melihat derajat artopaty dan fibrosis dari rotator cuff dan untuk, bila otot sudah menjadi fibrosis dan terrektraksi, maka tidak akan dapat sembuh kembali. Bila pada pasien dengan robekan rotator cuff  grade III dan pada MRI menunjukan terjadinya retraksi pada rotator cuff ke glenoid dengan artropi yang hebat sudah dapat dipastikan tidak akan dapat sembuh secara spontan.

  • Pathway (Web Of Causion)
1.       musculus supraspinatus

2.       musculus infraspinatus

3.       musculus teres minor

4.       musculus subscapularis

MK: Gangguan Mobilitas Fisik

  • Diagnosa (NANDA)
  • Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan otot.
  • Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera/robekan pada rotator cuff.
  • Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal kelemahan, berkurangnya pergerakan akibat cedera.
  • Perencanaan (NOC dan NIC)
No. Diagnosa Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan otot.

DS:

Laporan secara verbal

DO:

1)      Posisi menahan nyeri

2)      Tingkah laku berhati-hati

3)      Gangguan tidur (mata sayu, tampak lelah, gerakan kacau, menyeringai)

4)      Perubahan TTV

5)      Perubahan autonomic dalam tonus otot (dalam rentang dari lemah ke kaku)

 

Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 5×24 jam, pasien tidak mengalami nyeri dengan kriteria hasil:

1)      Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

2)      Mampu mengontrol nyeri

3)      Melaporkan bahwa nyeri berkurang

4)      Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

5)      TTV dalam rentang normal

6)      Tidak mengalami gangguan tidur

1.   Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi)

2.   Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

3.   Pasang bebat atau balutan (mitella) pada ekstremitas yang terkena untuk mengatasi rasa nyeri dan mencegah terjadinya cedera yang lebih lanjut

4.   Anjurkan untuk tingkatkan istirahat

5.   Ajarkan tentang teknik non farmakologi: kompres dingin

6.   Kolaborasi pemberian analgesic sesuai indikasi untuk mengurangi nyeri

7.   Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera/robekan pada rotator cuff

DO:

1)      Kesulitan merubah posisis

2)      Perubahan gerakan

3)      Keterbatasan motorik kasar dan halus

4)      Keterbatasan ROM

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5×24 jam gangguan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil:

1)      Pasien meningkat dalam aktivitas fisik

2)      Memverbalisasikan perasaan dalam peningkatan kekuatan dan kemampuan gerakan

1.    Monitor vital sign sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan

2.    Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi

3.     Berikan lingkungan yang aman.

4.    Latih pasien dalam pemenuhan kebuutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan.

5.    Damping dan bantu pasien saat mobilisasi.

6.    Ajarkan pasien merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan.

7.    Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai kebutuhan

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal kelemahan, berkurangnya pergerakan akibat cedera

 

DO:

Ketidakmampuan untuk mandi, berpakaian, makan, toileting

Setelah dilakukan tindakan keperwatan selama 3×24 jam, defisit perawatan diri teratasi dengan kriteria hasil:

1)      Pasien menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

2)      Dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan bantuan

1.   Monitor kemampuan pasien untuk perawatan diri yang mandiri.

2.   Monitor kebutuhan pasien untuk alat-alat bantu dalam kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.

3.   Sediakan bantuan sampai pasien mampu melakukan self-care.

4.   Motivasi pasien melakukan secara mandiri, namun beri bantuan ketika pasien tidak mampu melakukannya.

5.   Berikan aktivitas rutin sehari-hari sesuai kemampuan.

  • Implementasi
No. Dx Implementasi
1 1.      Telah mengkaji lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi myeri

2.   Telah mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

3.   Telah memasang bebat atau balutan (mitella) pada ekstremitas yang terkena

4.   Telah menganjurkan untuk tingkatkan istirahat

5.   Telah mengajarkan tentang teknik non farmakologi: kompres dingin

6.   Telah berkolaborasi terkait pemberian analgesic sesuai indikasi untuk mengurangi nyeri

7.   Telah memonitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali.

2 1.      Telah memonitor vital sign sebelum/sesudah latihan dan melihat respon pasien saat latihan

2.      Telah mengkaji kemampuan pasien dalam mobilisasi

3.      Telah memberikan lingkungan yang aman.

4.      Telah melatih pasien dalam pemenuhan kebuutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan.

5.      Mendamping dan membantu pasien saat mobilisasi.

6.      Telah mengajarkan pasien merubah posisi .

7.      Telah berkonsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai kebutuhan

3 1.      Telah memonitor kemampuan pasien untuk perawatan diri yang mandiri.

2.      Telah memonitor kebutuhan pasien untuk alat-alat bantu dalam kebersihan diri, berpakaian, berhias, toileting dan makan.

3.      Telah menyediakan bantuan sampai pasien mampu melakukan self-care.

4.      Telah memotivasi pasien melakukan secara mandiri, namun tetap memberi bantuan ketika pasien tidak mampu melakukannya.

5.      memberikan aktivitas rutin sehari-hari sesuai kemampuan.

  • Evaluasi
No. Dx. Evaluasi
1 S: pasien mengatakan nyeri masih namun sudah berkurang dari sebelumnya

O: pasien beberapa kali masih terlihat menahan nyeri ketika menggerakkan bahu yang cedera

Adanya penurunan skala nyeri

TTV dalam rentang normal

A: masalah teratasi sebagia

P: intervensi dilanjutkan

2 S: pasien mengatakan sudah sedikit bisa beraktivitas dengan bahunya yang cedera

O: pasien terlihat dapat beraktivitas menggunakan bahunya namun masih terlihat berhati-hati

A: masalah teratasi sebagian

P: intervensi dilanjutkan

3 S: pasien mengatakan sudah bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan bahunya, contoh ketika menyisir rambut pasien sudah mulai bisa melakukan

O: pasein terlihat masih mengalami kesulitan untuk berpakaian

A: masalah teratasi sebagian

P: intervensi dilanjutkan

BAB 4. PENUTUP

  • Kesimpulan

Cedera rotator cuff adalah suatu kerusakan pada struktur atau fungsi tubuh karena suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi pada bagian tendon bahu serta penggunaan rotator cuff yang berlebihan ketika melakukan aktifitas sehingga menyebabkan tendon berlawanan dengan tulang. Gejala yang berhubungan dengan cedera/ robeknya rotator cuff awalnya hanya bersifat ringan, kemudian menjadi lebih parah pada tahap selanjutnya.  Seddangkan terapi yang bisa dilakukan pada cedera rotator cuff adalah terapi, obat-obatan, maupun operasi.

  • Saran

Pada orang-orang yang mengalami cedera rotator cuff sebaiknya dapat menjaga kesehatan dirinya dengan berolahraga secara teratur dan tidak melakukan hal-hal atau yang berlebihan sehingga menimbulkan keparan pada cedera ini. Sedangkan untuk tenaga kesehatan khususnya perawat dapat membantu dalam penyembuhan cedera rotator cuff dengan memberikan perawatan yang professional pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA

NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC Edisi kesembilan. Jakarta: EGC.

Wilkinson, J.M., & Ahern N.R. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Diagnosa.

http://www.sehatfresh.com/cedera-rotator-cuff/ diakses tanggal 30 Mei 2015.

http://orthoinfo.aaos.org/PDFs/A00064.pdf (serial online) [diakses pada tanggal 31 Mei 2015]

http://orthoinfo.aaos.org/PDFs/Rehab_Shoulder_5.pdf (serial online) [diakses pada tanggal 31 Mei 2015]